Suara deru mesin pendingin ruangan yang sudah tua terdengar berdengung monoton, memecah kesunyian di dalam unit apartemen kelas menengah di pinggiran ibu kota setelah Anton bertanya namun tidak ada jawaban. Ruangan itu jauh dari kata mewah. Sofa kulit sintetisnya mulai mengelupas, meja ruang tamunya dipenuhi oleh asbak dan kaleng bir kosong, serta penerangannya hanya bergantung pada lampu berpendar kekuningan yang temaram. Ini adalah dunia Anton, sangat kontras dengan gaun sutra pastel yang membalut tubuh Hana yang kini duduk merapat di samping pria itu. Anton duduk dengan punggung kaku. Rahangnya mengeras. Di atas meja kaca di depannya, foto Arunaya masih tergeletak, menatap mereka berdua dengan senyum damai yang entah mengapa membuat d**a sang montir terasa sesak. Melihat kekerasan di

