Matahari sore Jakarta bersinar dengan kelembutan yang jarang terjadi, memantulkan warna keemasan di atas permukaan kolam ikan koi raksasa yang membentang di halaman belakang kediaman utama keluarga Trisatya. Tempat ini adalah oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Dikelilingi oleh pepohonan rindang dan ornamen batu alam bergaya Zen, suara gemercik air dari pancuran bambu menjadi satu-satunya melodi yang memecah kesunyian. Di tepi kolam itu, duduk di atas sebuah kursi kayu jati berukir, Profesor Wiryawan Trisatya, atau yang lebih dikenal sebagai Tuan Broto tengah memegang sebuah joran pancing. Sang patriark mengenakan kemeja linen putih yang nyaman dan celana panjang kain. Wajah tuanya yang dipenuhi keriput kebijaksanaan tampak sangat rileks, matanya menatap kail yang mengapung t

