Seketika udara di antara mereka menyempit. Seolah ada tangan tak kasat mata yang baru saja menyedot seluruh oksigen dari dalam ruang privat kedai teh tersebut. Suara gemerincing cangkir dari meja kasir di luar, alunan musik jazz klasik yang mengalun pelan, semuanya mendadak terdengar redam, terhalang oleh dinding ketegangan yang seketika terbangun tinggi. Abi membeku. Tangan kanannya yang bersandar di atas meja perlahan mengepal, buku-buku jarinya memutih menahan lonjakan adrenalin yang memukul dadanya. Ia menatap Arunaya. Mata di balik kacamata itu menajam, membedah ekspresi tenang wanita di hadapannya untuk mencari jejak kegilaan, atau setidaknya, sebuah indikasi bahwa Aru sedang melontarkan lelucon hitam yang sangat buruk. Namun, yang ia temukan hanyalah keseriusan yang mematikan. Ar

