"Ya," Helena mengangguk pelan. "Aku melukis ini sepuluh tahun yang lalu. Malam setelah aku menandatangani surat persetujuan untuk melepaskan ventilator suamiku." Aru tertegun. Ia menoleh menatap Helena, rasa empati yang masif tiba-tiba menyergap dadanya. "Suamiku koma selama delapan bulan karena stroke berat," Helena mulai bercerita, matanya menerawang menembus waktu. "Aku menolak melepaskannya. Aku menghabiskan seluruh hartaku, mendatangkan dokter terbaik, memaksanya bernapas dengan bantuan mesin. Aku pikir aku sedang menyelamatkannya." Helena tersenyum getir, sebuah senyum yang sangat dipahami oleh Aru. "Sampai suatu malam, aku melihat air mata menetes dari sudut matanya yang terpejam. Di saat itulah aku sadar. Perahu suamiku sudah bocor. Dia sudah siap untuk tenggelam ke dalam peluk

