Masih Ingat alasan Kita Menikah, Mas?

1104 Kata

Kalimat itu menggantung di udara, lebih dingin daripada kabut yang menyelimuti Danau Teluk di luar sana. "Ceraikan aku, Shankara." Jevas masih diam. Tubuhnya kaku seperti patung es yang baru saja retak. Namun, keterkejutan di matanya perlahan surut, digantikan oleh sorot mata yang menggelap, sorot mata seorang predator yang merasa otoritasnya sedang diuji oleh mangsanya. Arunaya, di sisi lain, tampak sangat tenang. Ketenangan yang tidak wajar. Ia meraih cangkir tehnya sendiri, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi tak yang pelan. Ia menatap Jevas lurus-lurus, tatapan yang jernih tanpa kabut air mata. "Masih ingat alasan kita menikah, Mas?" tanya Aru pelan. Jevas tidak menjawab. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN