Ceraikan Aku, Shankara. Aku …

1305 Kata

Jam dinding kayu yang berbandul kuningan di ruang tengah baru saja berdentang dua kali. Pukul 03.00 dini hari. Desa Teluk sedang terlelap dalam selimut kabut tipis yang turun dari bukit. Suara jangkrik yang biasanya ramai pun seolah enggan bersuara malam ini. Namun, kedamaian itu terusik. Suara deru mesin mobil yang halus namun bertenaga memecah keheningan malam. Sorot lampu LED putih tajam menyapu halaman depan, menembus celah-celah ventilasi kayu rumah panggung tua itu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak di dinding kamar Aru. Di atas ranjang Nenek yang berseprai putih, Arunaya membuka matanya. Ia tidak langsung bangun. Tubuhnya masih terasa remuk redam sisa pingsan sore tadi. Kepalanya berdenyut pelan, seirama dengan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu. Ia tahu suara mes

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN