"Dan seharusnya kau tidak bertanya seprivasi ini." Suara Jevas membelah udara pendingin ruangan yang steril, rendah namun sarat dengan peringatan. Matanya, yang semerah saga karena campuran kelelahan dan emosi, menatap lekat pada pria di hadapannya. "Sejauh apa aku mengenal istriku, sedalam apa aku memahaminya, itu urusan rumah tanggaku. Bukan urusanmu." Abimana tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kalimat defensif itu menggantung, membiarkan Jevas merasakan sendiri betapa rapuhnya argumen tersebut. Dokter itu hanya menghela nafas pelan, sangat pelan, seolah sedang menghadapi pasien yang menolak diagnosa. Abimana mengangguk, sebuah gerakan minimalis yang mengandung ketenangan yang menjengkelkan bagi lawan bicaranya. "Benar," ucap Abimana. Nada suaranya datar, tidak ada fluktuasi emo

