Lorong menuju ruang kerja Direktur Utama terasa panjang dan menyesakkan bagi Hana. Langkah kakinya yang berbalut sepatu hak tinggi beradu dengan lantai marmer, menciptakan gema ritmis yang terdengar seperti hitungan mundur menuju eksekusi. Di depannya, Abimana Trisatya berjalan dengan langkah lebar dan tegas. Punggung tegap dokter itu terbungkus jas putih yang sedikit kusut di bagian bahu, menandakan ia sudah melewati malam yang panjang. Tidak ada upaya dari pria itu untuk memperlambat langkah demi menyamakan ritme dengan Hana, tidak ada pula gestur gentleman untuk membukakan pintu dan menahannya. Abimana membuka pintu ruang kerjanya, masuk lebih dulu, dan membiarkan pintu itu terbuka lebar, sebuah undangan tanpa kehangatan. "Masuklah," ucap Abimana datar tanpa menoleh. Hana melangkah

