Suara porselen pecah menghantam lantai marmer menjadi musik pembuka bagi konfrontasi di ruang tamu utama kediaman Pondok Indah sore itu. Jevas tidak pernah meninggikan suaranya kepada ibunya seumur hidupnya. Ia dididik untuk menghormati Ratna Mavendra sebagai matriark, sebagai ratu yang memegang kendali di balik takhta mendiang ayahnya. Namun, batas kesabaran itu memiliki titik jenuh, dan hari ini, Ratna baru saja menuangkan bensin ke atas api yang sudah membara. "Cukup, Bu!" Teriakan Jevas menggema, memantul di dinding-dinding tinggi yang dihiasi lukisan leluhur. Ia berdiri di tengah ruangan, napasnya memburu, matanya menatap wanita yang melahirkannya dengan tatapan asing. Di tangannya, ia meremas brosur rumah sakit luar negeri yang ia temukan di meja Aru, bukti intervensi ibunya yang

