"Gerakan wajar dari seorang adik ipar ke kakak iparnya. Membenarkan dasi, menyentuh dada... salahnya di mana?" Aru mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Jevas yang kini menggelap oleh campuran rasa ngeri dan penyesalan yang terlambat. Aru memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang menganalisis sebuah teori filsafat yang menarik. "Salahnya ada pada orang yang melihat, lalu menyimpulkannya sendiri dengan pikiran yang kotor," ucap Aru, menggemakan kalimat manipulatif suaminya di masa lalu dengan akurasi yang mematikan. "Bukankah begitu, Mas?" Hana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya yang tadi pucat kini memerah padam karena tamparan sarkasme tingkat tinggi yang dibalut dengan nada suara semanis madu. Ia merasa ditelanjangi, merasa sangat kecil dan bodoh. Jevas memeja

