Aru menoleh, tersenyum tipis di balik kacamata hitamnya. "Iya, Pak. Sedang ingin." "Baguslah. Bakat seperti Mbak sayang kalau dipendam," komentar bapak itu tulus sambil menghitung belanjaan Aru. "Totalnya tiga juta lima ratus ribu." Aru mengeluarkan kartu kredit tambahan dari Jevas. Kartu hitam unlimited yang jarang ia pakai karena ia selalu sungkan. Tapi hari ini, rasa sungkan itu hilang. Properti yang mahal butuh perawatan mahal, batin Aru sinis. Anggap saja ini biaya pemeliharaan kewarasan istrinya. Aru menggesek kartu itu tanpa ragu. Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang sore. Rumah besar itu sepi. Jevas pasti masih di rumah sakit, menjadi "ayah" bagi Leo. Aru tidak peduli. Ia menyuruh supir taksi dan satpam membantunya mengangkut kanvas besar dan belanjaannya ke ruang kaca

