Jantung Arunaya yang sempat melompat ke tenggorokan perlahan kembali turun ke rongga dadanya, berdetak dengan irama yang lebih lambat namun berat. Ia tercenung sejenak, menatap wajah suaminya yang kaku. Ada hembusan nafas lega yang lolos tanpa sadar dari bibirnya yang pucat. Syukurlah. Syukurlah arogansi Jevas menyelamatkannya. Tadi, saat Jevas bergumam "Wajahmu..." dengan tatapan yang menelusuri kulitnya, Aru sempat panik. Ia pikir Jevas akhirnya melihat kematian yang membayang di wajahnya. Ia pikir Jevas akan bertanya kenapa kulitnya menguning atau kenapa tubuhnya menyusut drastis. Aru belum siap dengan pertanyaan itu. Ia tidak punya jawaban yang tidak melibatkan kata "kanker". Tapi ternyata, Jevas tetaplah Jevas. Pria itu lebih peduli pada meja rias yang kosong daripada istri yang

