Begitu mobil Alphard milik Hana menghilang di balik gerbang besi, topeng Arunaya retak seketika. Senyum ceria yang ia paksakan selama dua jam terakhir luntur, digantikan oleh ringis kesakitan yang tak tertahankan. Tubuhnya merosot di balik pintu utama yang tertutup. Napasnya memburu, keringat dingin kembali membasahi punggung gaun. "Lelah..." desisnya lirih, matanya terpejam erat. "Tuhan, lelah sekali." Bukan hanya kakinya yang gemetar karena terlalu lama berdiri meladeni ocehan Leo sebelum pulang, tapi batinnya juga remuk. Melihat kebahagiaan Hana, melihat binar mata Leo saat menceritakan "Paman Jevas", dan menyadari bahwa dirinya hanyalah figuran dalam kisah keluarga bahagia itu, menguras energi Aru lebih cepat daripada sel kankernya. Aru menyeret langkahnya kembali ke kamar tamu.

