Sinar matahari menembus tirai sutra jendela kamar utama dengan intensitas yang menyilaukan, seolah alam semesta sedang berusaha menelanjangi sisa-sisa dosa dan kebohongan yang terjadi di atas ranjang semalam. Arunaya duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan suaminya yang sedang mengancingkan manset kemeja putihnya di depan cermin besar lemari pakaian. Jevas tampak segar. Ada aura kepuasan yang memancar dari setiap gerak-gerik tubuhnya, cara dia menyisir rambut, cara dia memilih dasi, bahkan cara dia bernapas. Malam yang penuh dengan "rekonsiliasi fisik" itu telah mengisi ulang ego pria itu hingga penuh. Jevas merasa telah memenangkan kembali wilayahnya. Sebaliknya, Aru merasa terkuras. Bukan hanya lelah fisik akibat melayani tuntutan suaminya, tetapi juga lelah mental karena harus me

