Jevas terdiam, menunggu. Ia berharap Aru akan menyangkal. Ia berharap Aru akan marah dan berteriak, "Aku tidak selingkuh!". Tapi Aru tersenyum. Senyum tipis yang misterius. "Menurutku..." Aru memulai, matanya menerawang seolah sedang membayangkan sosok dokter itu. "...Dokter Abimana cukup menarik." Jantung Jevas seolah berhenti berdetak. Ia tidak menyangka Aru akan berani mengatakan itu. Aru melihat reaksi kaget di wajah suaminya, dan ia memutuskan untuk menekan pisau itu lebih dalam. "Dia berbeda denganmu," lanjut Aru, suaranya mengalun lembut namun mematikan. "Abimana itu... tenang. Saat dia bicara, dia menatap mata lawan bicaranya. Dia mendengarkan. Dia tidak memotong pembicaraan hanya untuk memaksakan pendapatnya sendiri." Aru mengingat momen di rooftop dan di ruang kerja Abima

