Pintu kayu jati berpelitur mahal ruang VVIP itu ditutup kembali dengan gerakan yang luar biasa kaku. Klik. Bunyi pelan dari engsel pintu yang mengunci seolah menjadi palu hakim yang meremukkan sisa-sisa kewarasan Ratna Mavendra. Di lorong rumah sakit yang sepi dan beraroma antiseptik kelas atas itu, napas wanita paruh baya tersebut memburu. Tangannya yang dipenuhi perhiasan berlian mencengkeram gagang tas mahalnya hingga buku-buku jarinya memutih pucat. Di sebelahnya, Hana berdiri mematung. Rantang bubur di tangannya terasa sedingin es. Wajah janda cantik itu masih pias, matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja menyembunyikan pemandangan paling menghancurkan dalam hidupnya: Jevas, pria yang ia pikir sudah muak pada istrinya, ternyata sedang memeluk Arunaya dengan keputusasaan

