Langkah Ratna Mavendra yang sudah mencapai ambang pintu seketika terhenti. Tangan wanita paruh baya itu masih menggantung di gagang pintu kaca geser. Ia memutar tubuhnya perlahan, ikut menahan napas mendengar pertanyaan lancang yang baru saja dilontarkan oleh menantu jandanya itu. Di seberang meja kaca, Arunaya tidak langsung menjawab. Wanita itu meletakkan majalah modenya dengan gerakan lambat dan terukur. Mata coklatnya yang segelap kopi pekat menatap lurus ke arah Hana. Tatapan itu tidak berkedip, tidak menyiratkan emosi, namun terasa sangat menguliti. Aru memindai wajah cantik adik iparnya, menembus lapisan kepolosan palsu yang selama ini menjadi tameng janda tersebut. "Kenapa aku berubah?" Aru mengulang pertanyaan itu dengan nada datar yang membekukan udara. Hana menelan ludah, me

