"Anggap saja privilege berteman dengan Direktur Utama." Aru tersenyum tipis. "Terima kasih." Lift turun membawa mereka ke lantai dasar. Saat pintu lift terbuka di lobi utama, Aru melangkah keluar lebih dulu. Ia memakai kacamata hitamnya lagi, siap kembali menjadi Nyonya Mavendra yang misterius. "Jangan antar aku sampai mobil. Nanti ada yang lihat, aku tidak mau ada rumor," ujar Aru, kembali ke mode rahasia. "Hati-hati," pesan Abimana. Ia berdiri di depan lift, membiarkan Aru berjalan menjauh. Aru berjalan melintasi lobi rumah sakit yang ramai. Ia merasa sedikit lebih ringan. Ia punya rencana. Ia punya jadwal. Ia punya kendali. Namun, rasa percaya dirinya yang baru tumbuh itu seketika runtuh saat ia melangkah keluar dari pintu otomatis lobi rumah sakit menuju area drop-off. Sebuah mo

