Keheningan di ruang tamu formal kediaman Pondok Indah itu pecah bukan oleh suara gelas yang berdenting, melainkan oleh derap langkah kaki mantap yang menggema dari arah foyer. Jevas melangkah masuk. Pria itu membawa serta aura musim dingin yang membekukan sisa kehangatan di ruangan tersebut. Ia masih mengenakan setelan kerjanya, jas charcoal yang dijahit sempurna, kemeja putih yang sedikit terbuka di kerah, dan rambut yang disisir rapi ke belakang. Di tangannya, sebuah tas kerja kulit terlihat kontras dengan suasana santai yang coba dibangun ibunya. Jevas berhenti sejenak di ambang pintu, matanya menyapu ruangan dengan kecepatan kalkulator menghitung laba rugi. Tatapannya mendarat pada Arunaya yang berdiri kaku di dekat pintu, lalu beralih pada Hana yang duduk manis dengan wajah bersem

