Kini, Aru hanya bisa menunggu dua jam lagi. Menunggu drama ini mencapai klimaksnya, di mana kebohongan akan disahkan secara medis, dan Jevas akan mendapatkan "kepastian" yang ia cari, kepastian yang akan menjebak mereka berdua dalam neraka yang lebih dalam. "Sekarang," suara Jevas membuyarkan lamunan Aru. "Sambil menunggu hasil, ayo kita lihat rahimmu di layar monitor. Aku ingin lihat di mana anakku akan tinggal." Aru menelan ludah. Bagian pertama lolos. Tapi bagian kedua, USG, masih menantinya. Untungnya, tumornya ada di hati, bukan di rahim. Rahimnya bersih. Tapi kalimat Jevas membuat perutnya mual lagi. Anakku akan tinggal. ‘Tidak, Mas. Tidak akan ada yang tinggal di sana. Karena rumah ini sudah mau runtuh’ ** Suara mesin pencetak (printer) laser di sudut ruangan konsultasi Profe

