Abi… tolong… Aku

1978 Kata

"Ayo. Supir sudah menunggu. Aku tidak mau Profesor Hadi menunggu," perintah Jevas, lalu berbalik badan tanpa menunggu Aru. Aru menghela napas panjang, menekan ulu hatinya yang nyeri, lalu melangkah mengikuti punggung lebar suaminya. Menuju mobil yang akan membawanya ke pengadilan meja hijau berkedok klinik dokter. Sementara itu, di sisi lain kota Jakarta, di lantai teratas Rumah Sakit Pusat Mavendra. Suasana di ruang kerja Direktur Utama jauh dari kata tenang, meski permukaannya tampak hening. Abimana Trisatya duduk di balik meja kerjanya yang luas. Ponsel pribadinya, bukan ponsel kerja, tergeletak diatas meja kaca dengan layar yang masih menyala redup, menampilkan pesan singkat yang masuk pukul dua dini hari tadi. Kode Merah. Dua kata itu sudah cukup membuat darah Abimana mendidih da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN