Perlahan, selubung kegelapan pekat yang memenjarakan kesadaran Arunaya mulai menipis. Tidak ada lagi sensasi dingin yang membekukan tulang. Tidak ada lagi tekanan air yang meremukkan paru-parunya. Sebagai gantinya, sebuah rasa sakit yang tumpul dan kering menyergap tenggorokannya, diiringi oleh denyut nyeri yang berirama di pelipisnya. Aru mencoba menggerakkan kelopak matanya. Terasa luar biasa berat, seolah direkatkan oleh timah panas. Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, ia memaksa kelopak mata itu terbuka. Sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan langsung menusuk retinanya, memaksanya untuk kembali memejamkan mata sejenak. Bersamaan dengan kembalinya indra penglihatannya, indra penciumannya pun mulai bekerja. Sebuah aroma yang sangat familiar namun luar biasa ia benci

