Di dalam kabin mobil mewah yang kedap suara itu, udara terasa berat, seolah dipadati oleh ribuan kata yang tak terucap. Mercedes-Benz itu melaju membelah jalanan pantai utara yang gelap gulita, melewati truk-truk ekspedisi yang menderu, namun di dalam sini, sunyi berkuasa. Jevas menyetir dengan fokus penuh pada jalanan. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan, tak sekalipun menoleh ke kursi penumpang. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi, agresif namun presisi, seolah ingin segera mengakhiri perjalanan ini secepat mungkin. Arunaya duduk di sebelahnya, memalingkan wajah sepenuhnya ke arah jendela. Kaca jendela yang dingin memantulkan bayangan wajahnya yang samar, pucat, lelah, dan hampa. Di luar sana, lampu-lampu jalan berkelebat seperti garis cahaya yang kabur, tidak bisa dinikmati

