Malam semakin larut di area gudang Astapura. Suara mesin truk yang baru datang terdengar menderu di kejauhan, membelah sunyi yang menyelimuti bangunan mes VIP di samping rumah besar Pak Haji. Cahaya lampu taman yang kekuningan menyinari jalan setapak, tempat Santi berjalan dengan langkah yang sengaja diperhalus. Ia mengenakan gamis biru tua yang longgar dan hijab yang tersemat rapi. Di tangannya, ia memeluk beberapa map dokumen, sebuah alasan sempurna untuk menutupi gemuruh di dadanya. Sebelum mencapai bangunan mes, Santi berpapasan dengan ayahnya yang baru saja menutup pintu samping kantor. "Eh, Santi. Mau ke mana malam-malam begini, Nduk?" tanya Pak Haji Malik sambil merapikan sarungnya. "Ini Bah... anu, surat-surat yang dari Mbak Fani tadi sudah beres. Kata Abah tadi kan disuruh anta

