Revan ngelepas pelukan Vita di dapur dengan tangan yang masih agak gemetar. Ia bisa merasakan sisa kehangatan kulit adiknya itu di punggungnya. "Udah, Kakak mau ganti baju dulu. Keburu siang nanti," ucapnya dengan suara yang sengaja dibuat setegas mungkin. Ia mencoba menekan gejolak di dadanya agar Vita nggak makin manja dan membuatnya tertahan lebih lama di dapur itu. Revan berjalan lunglai menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu kayu yang sedikit lapuk itu terbuka, langkah Revan mendadak mati kutu di ambang pintu. Pandangannya langsung tertuju pada pemandangan di atas kasur reotnya. Di sana, Cici masih terlelap sangat pulas, seolah dunianya nggak terganggu sedikit pun oleh apa yang terjadi semalam. Tubuh adiknya yang polos tanpa sehelai benang pun terekspos jelas di bawah cahaya pagi yan

