Waktu berjalan pelan di lorong ICU. Terlalu pelan. Bulan duduk di kursi tunggu sejak brankar Geo menghilang di balik pintu otomatis itu. Jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam, tapi matanya masih terpaku pada pintu ICU yang tak kunjung terbuka. Tangannya saling menggenggam erat. Kadang ia berdiri, lalu duduk lagi. Kadang ia melangkah mendekat ke pintu, lalu mundur dengan perasaan bersalah yang menekan dadanya. Junet sudah duduk tak jauh darinya. Pria itu lebih banyak diam, sesekali menerima telepon dan membalas pesan dengan wajah tegang. Bulan mengusap wajahnya pelan. Setiap detik menunggu terasa seperti hukuman. “Apa dia kesakitan sekarang…” gumam Bulan lirih, nyaris berbisik. Ia menutup mata, berusaha menahan air mata yang tak henti-hentinya ingin jatuh. Di tengah ke

