Bulan duduk di samping Geo, air mata wanita itu mengalir deras, ia tak bisa menahan tangisnya. Bulan tidak tahu bagaimana keadaan Noah saat ini.
"Kalau kamu mau cerita, cerita saja, saya dengarkan sambil nyetir. Yang sabar ya, semoga Ibu kamu baik-baik saja," tutur Geo yang mulai menjalankan mobil Bulan.
Untungnya pria itu bersedia mengantar Bulan ke rumah sakit. Walaupun Geo adalah CEO di perusahaan itu, akan tetapi terkadang Bulan merasa Geo tidak seperti CEO pada umumnya.
Entah mungkin itu hanya karena perasaannya saja atau mungkin karena ia sudah terlalu dekat dengan pria yang kurang lebih selama dua tahun ini menjadi bosnya.
Padahal Geo terkenal sebagai bos yang galak dan angkuh, tapi herannya ketika bersama dengan Bulan pria itu terkadang mendadak menjadi orang yang random.
Bulan hanya terdiam, ia tak membalas ucapan Geo yang beberapa kali menoleh ke arahnya.
Bulan membiarkan saja Geo mengira yang masuk rumah sakit itu adalah ibunya, yang terpenting saat ini ia harus tiba di sana.
Karena jika ia mengatakan kalau yang masuk rumah sakit adalah calon suaminya, belum tentu juga Geo mau mengantarnya.
"Yang sabar ya, Bul," ucap pria itu lagi meskipun tak ada respon dari Bulan, akan tetapi Geo berusaha menenangkan Bulan dengan tulus.
Bukan berniat untuk mengabaikan bosnya, akan tetapi Bulan terdiam karena ia sedang menahan tangis. Dadanya terasa sesak sampai membuat ia tak mampu berkata-kata.
Pikirannya terus tertuju kepada Noah, bagaimana jika nyawa pria itu tidak bisa diselamatkan?
Rasanya Bulan ingin ikut mati saja.
Sepanjang perjalanan terasa hening, hanya isak tangis Bulan yang sekali terdengar.
Geo juga tak berbicara lagi, pria itu seolah mengerti perasaan Bulan dan membiarkan Bulan diam agar lebih tenang.
Padahal, biasanya Geo tak bisa berhenti berbicara, apalagi saat diperjalanan seperti ini bersama dengan Bulan.
Setelah hampir setengah berkendara, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
Bulan yang sedari tadi sudah tak sabar untuk segera sampai di tempat itu, ia segera keluar dari mobil dan berlari kencang masuk ke dalam rumah sakit.
Bahkan sebelum Geo turun dari mobilnya, pria itu mengikuti langkah Bulan yang terlihat sedang berdiri di depan resepsionis.
"Saya keluarga dari pasien atas nama Noah Hudson Jasper, korban kecelakaan," ucap Bulan dengan nada bergetar dan wajah penuh kekhawatiran.
"Silahkan ke bagian administrasi di sebelah sana, Mbak," balas seorang resepsionis seraya mengarahkan bulan ke bagian administrasi.
Tanpa menunggu lama lagi, wanita itu langsung berlari ke bagian administrasi. Padahal Geo baru saja tiba di sampingnya.
"Mohon maaf, ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya seorang resepsionis kepada Geo.
"Emmm ... Tidak, saya ikut sama Mbak itu!" Geo menunjuk ke arah Bulan, setelah itu ia segera menghampiri Bulan yang terlihat sedang menandatangani beberapa lembar kertas.
Bulan membalikkan badan setelah selesai menandatangani semuanya. Namun, karena ia tidak memperhatikan sekitar, ia sampai menabrak Geo yang ternyata sudah berdiri di belakangnya.
"Ya ampun, Pak!" Bulan membuang nafas kasar, karena ia juga merasa terkejut ketika tiba-tiba menabrak Geo.
"Tenangkan diri kamu, Bul." Geo mengusap lengan Bulan dengan lembut. Sorot mata pria itu terlihat tulus.
Bulan merasa sedikit terharu, karena dibalik sikapnya yang nyebelin, ternyata Geo adalah orang yang tulus.
"Iya, Pak, terima kasih. Bapak mau pulang sekarang? Gak papa Bapak bawa mobil saya saja, nanti saya ambil ke kantor. Saya mau ke IGD dulu." Bulan kembali berlari karena ia sangat terburu-buru.
"Bul, saya ikut!" Geo segera berlari, pria itu terus mengikuti Bulan.
Bulan duduk di kursi tunggu, ia melihat ke arah ruang IGD yang pintunya tertutup rapat.
Noah sedang berada di sana, ia sama sekali belum mengetahui keadaannya.
Sorot matanya kabur terhalang air mata, padahal ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu dan akan menjadi momen spesial.
Namun, seketika semuanya berubah drastis. Bulan benar-benar merasa menyesal, seandainya saja ia bisa menjemput Noah ke bandara, pasti ini semua tidak akan terjadi.
Ini semua gara-gara George yang mengajaknya bertemu klien di jam mepet, padahal ia sudah memiliki janji untuk menjemput Noah.
Bulan mengepalkan tangannya, ia benar-benar merasa kesal kepada Geo.
Namun, ketika ia menoleh ke arah kanan, pria itu sudah ikut duduk di sampingnya dengan wajah melas.
Rasanya Bulan tidak tega untuk memarahi pria itu, karena berkat Geo juga dirinya bisa sampai di rumah sakit dengan cepat.
Karena jika ia terlambat datang ke rumah sakit, maka Noah juga akan terlambat mendapatkan penanganan.
Geo kembali melepaskan kepalan tangannya ketika melihat wajah melas Geo.
Padahal pria itu adalah bos besar perusahaan, tapi kenapa saat ini wajahnya malah terlihat melas seperti orang yang sedang menahan lapar.
Tak lama kemudian, pintu IGD dibuka dari dalam yang membuat Bulan langsung menoleh.
Seketika ia berdiri dan menghampiri seorang dokter yang baru keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Bulan dengan panik.
"Pasien mengalami luka berat di bagian kepalanya dan sekarang belum sadarkan diri. Mungkin sebentar lagi pasien akan siuman. Tapi, sepertinya ada sedikit gangguan pada ingatannya," jelas dokter itu yang membuat Bulan merasa sedikit lega, tapi ia juga tetap dilanda rasa khawatir yang sangat besar, terlebih lagi ketika ia mendengar gangguan pada ingatan Noah.
"Maksud dokter? Gangguan ingatan bagaimana, Dok?" Bulan menatap intens ke arah dokter laki-laki itu.
"Kami belum bisa mendiagnosis sepenuhnya, tapi itu semua akan terlihat ketika pasien sudah siuman."
"Apa saya boleh masuk sekarang, Dok?"
"Silahkan, tapi jangan sampai mengganggu istirahat pasien."
Mendengar itu, Bulan langsung masuk ke dalam IGD.
Lututnya langsung bergetar hebat, bahkan ia hampir saja terjatuh jika tidak berusaha menguatkan diri.
Air matanya seketika mengalir deras menghujani pipi mulusnya ketika melihat seorang pria yang telah ia tunggu kepulangannya selama tiga tahun, sedang terbaring di atas brankar dengan kepala yang dibalut perban luka.
Bulan melangkah dengan gontai, ia menghampiri Noah yang masih belum sadarkan diri.
"Mas Noah ..." panggilnya dengan lirih.
Bulan menyentuh tangan Noah dengan jemari lentik yang bergetar hebat.
Bulan menangis sesenggukan, ia ingin memeluk raga itu, akan tetapi ia takut mengganggu kondisi Noah.
"Mas Noah bangun! Katanya kamu mau aku peluk dan aku cium, kamu bangun sekarang, Mas! Kita udah bertemu, Mas. Hubungan jarak jauh kita sudah selesai, Mas, ayo bangun!!!"
Bulan mengguncangkan lengan kekar pria itu diiringi dengan hujan air mata yang sampai menetes membasahi kulit lengan Noah.
Seolah mendengar tangis Bulan, Noah mulai menggerakkan jemari tangannya. Kedua mata pria itu terbuka dengan perlahan.
"Mas, kamu udah siuman, Mas! Aku peluk kamu ya, Mas, aku cium kamu!!!" Bulan yang merasa senang ketika melihat Noah membuka kedua matanya, ia akan langsung memeluk pria itu.
Namun, sebelum Bulan menyentuh tubuhnya, Noah berkata dengan lirih, "siapa kamu? Jangan peluk aku!"
Kalimat itu membuat Bulan seketika menghentikan gerakannya yang sudah merentangkan kedua tangan.