Sebagian yang Hilang

1004 Kata
"Mas, kamu gak ingat aku? Ini aku, Bulan! Aku calon istri kamu, Mas. Kamu udah janji mau melamar aku dan menikahi aku secepatnya. Setelah kamu kembali ke Jepang, aku akan ikut ke Jepang sama kamu, Mas," tutur Bulan dengan tak sabar menjelaskan agar Noah bisa langsung mengingat dirinya dan juga semua rencana mereka berdua. "Kembali ke Jepang? Aku baru lulus kuliah dan aku baru mau berangkat ke Jepang bulan depan. Aku jatuh dari motor sampai masuk rumah sakit," balas Noah yang membuat Bulan seketika terdiam. Ketakutannya tentang ucapan dokter itu terjadi, Noah benar-benar kehilangan ingatannya. Tapi, pria itu masih mengingat ketika ia lulus kuliah bahkan ia mengatakan kalau dirinya jatuh dari motor sampai masuk rumah sakit. Apa kejadian itu pernah dialami Noah sehingga ingatannya stuck di sana? Bagaimana caranya Bulan mengembalikan ingatan Noah soal dirinya? Jika memang ingatan Noah stuck disaat ia baru lulus kuliah, itu artinya Bulan sama sekali tidak ada di dalam memory Noah, karena mereka baru kenal dan bertemu setelah pria itu satu tahun kerja di Jepang. "Kamu beneran gak ingat aku, Mas?" tanya Bulan dengan penuh keputus asaan. Kedua matanya menatap sayu ke arah wajah Noah yang terlihat pucat, sorot mata Noah seperti menggambarkan kekhawatiran dan kecemasan. "Aku gak tahu siapa kamu dan kenapa kamu ada di sini? Mungkin kamu salah orang, aku bukan orang yang kamu cari," jawab Noah yang membuat hati Bulan terasa seperti ditusuk rubuan panah. Air matanya semakin luruh, bibirnya bergetar hebat sampai ia tak bisa berkata-kata. Raga yang ia tunggu selama tiga tahun itu kini telah berada di hadapannya. Namun, ia sama sekali tak bisa menyentuhnya. Bulan merasa harapannya hancur sudah bersama dengan hatinya yang remuk. Bagaimana caranya ia memasukkan dirinya dan juga kisah mereka ke dalam ingatan Noah. Bulan menarik nafas perlahan, ia berusaha akan menjelaskan sekali lagi dengan lebih detail lagi agar Noah bisa mengingat semuanya. "Mas, aku adalah calon istrimu, kita sudah berpacaran selama tiga tahun, tapi kita LDR karena kamu bekerja di Jepang. Dan hari ini kamu pulang ke Indonesia, kita berjanji untuk bertemu di bandara, tapi aku tidak bisa menjemputmu karena ada pekerjaan mendadak. Akhirnya kamu naik taksi dan kita berjanji untuk bertemu di kantorku, setelah itu kita akan berangkat ke sebuah tempat yang sudah kita rencanakan. Aku tahu di sana kamu akan melamarku, kamu akan memakaikan cincin yang semalam kamu tunjukkan padaku. Kamu akan memasangkan cincin berlian itu ke jari manisku sebagai tanda bahwa kamu sudah melamar aku. Tapi, sayangnya ...." Bulan menjeda ucapannya, ia menarik nafas perlahan dan berusaha menenangkan diri. Lidahnya terasa berat untuk mengatakan ini. "Kamu mengalami kecelakaan di sebuah tol yang mengakibatkan kamu sampai masuk rumah sakit. Kamu sudah mengingat semuanya kan, Mas? Kamu udah ingat aku?" Bulan menatap Noah dengan sorot mata penuh harap. Ia benar-benar berharap pria itu bisa mengingat semuanya setelah mendengar penjelasan darinya. "Ngawur! Aku ini jatuh dari motor, kenapa jadi kecelakaan di tol? Kamu salah orang!" jawab Noah yang membuat Bulan langsung down. Lagi-lagi hatinya terasa perih bak ditusuk ribuan belati tajam. "Gak ... Kamu pasti ingat semuanya, Mas. Aku jelasin sekali lagi ya ...." "Diammmm ... Berisik ... Kepala aku sakit!!!!" teriak Noah sambil memegangi kepalanya. Kulit wajah pria itu terlihat memerah, bahkan matanya mengeluarkan buliran bening. Bukan karena sedih, tapi karena ia sedang menahan tangis yang luar biasa. "Ya ampun, Noah ... Noah, kamu kenapa? Noah, tenangkan diri kamu ya." Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan itu dan langsung merangkul tubuh Noah. Bulan tahu betul itu adalah ibu dari Noah yang bernama Rengganis. Meskipun ia dan bu Rengganis belum pernah bertemu secara langsung, akan tetapi Noah sudah pernah mengenalkannya melalui panggilan video yang disambungkan dengan ibunya. "Kepalaku sakit, Mah!" teriak Noah lagi yang terlihat gelisah dan ketakutan. "Iya, sekarang kamu tenang ya, disini ada Mama." Bu Rengganis mengusap punggung Noah dengan lembut. Wanita paruh baya itu sudah mengetahui kondisi putranya. Karena setelah ia datang ke rumah sakit, bu Rengganis langsung menemui dokter yang menangani Noah terlebih dahulu sebelum ia menemui putranya di ruang IGD. Karena bu Rengganis mengira kalau Noah belum siuman, tapi ternyata di sana juga ada seorang wanita yang sedang bersama dengan Noah. "Tante, aku Bulan," ucap Bulan seraya memberanikan diri mengulurkan tangannya kepada wanita paruh baya berambut sebahu itu. Bu Rengganis menoleh ke arah Bulan, wanita paruh baya itu terdiam sejenak dan memperhatikan Bulan dari atas sampai bawah. "Bulan ...." Bu Rengganis menerima uluran tangan dari Bulan. "Terima kasih kamu sudah memeluk Noah di sini. Tapi, Tante harap kamu bisa mengerti kondisi Noah. Ini semua terjadi di luar dugaan kita semua. Tante tahu rencana Noah pulang ke Indonesia. Tapi, nasib buruh malah menimpa Noah. Semoga Noah bisa cepat mengingat semuanya. Kamu yang sabar ya," tutur bu Rengganis dengan air mata yang menetes dengan perlahan. Mendengar itu, justru air mata Bulan malah mengalir deras, untung saja bu Rengganis bisa memahaminya. Ia tahu wanita yang ia anggap calon mertuanya itu sangat baik. "Iya, Tante ...." "Mah, kenapa dia ada di sini? Aku tidak tahu dia siapa. Kepalaku sakit mendengar ceritanya." Noah menunjuk ke arah Bulan dan itu rasanya seperti busur panah yang menancap tepat di d**a Bulan. "Bulan, sebaiknya kamu keluar dulu ya," ucap bu Rengganis dengan hati-hati. "Tante, aku masih ingin melihat Mas Noah." Bulan terdengar memohon. "Keluar kamu!" teriak Noah yang kembali menunjuk ke arah Bulan. "Mas ...." "Keluar!!!!" Mendengar suara teriakan keras, Geo yang sedari tadi menunggu di luar, akhirnya masuk ke dalam ruangan itu karena ia mengkhawatirkan keadaan Bulan. "Ada apa ini?" tanya Geo dengan wajah bingung. "Nah, itu calon suami kamu! Tolong bawa perempuan ini pergi dari sini, kepalaku sakit!" Noah menunjuk ke arah Geo, lalu setelah itu ia menunjuk ke arah Bulan ketika meminta Geo membawa Bulan pergi dari sana. "Bulan, kamu keluar dulu ya," titah bu Rengganis sekali lagi kepada Bulan. Dengan berat hati, Bulan terpaksa keluar dari ruangan itu dengan kaki yang terasa sangat sulit untuk diangkat. "Bulan, siapa dia? Kenapa dia mengusir kamu?" tanya Geo yang mengikuti langkah Bulan dari belakang. "Dia adalah calon suamiku," jawab Bulan yang seketika membuat Geo menghentikan langkahnya di ambang pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN