Bab 126

2071 Words

Naura melangkah ringan melewati lorong rumah besar itu. Hari ini dia mengenakan blus putih tipis tanpa lengan dan celana pendek yang memamerkan betis jenjangnya. Rambutnya dikepang ke samping, memberikan kesan kekanakan tapi sekaligus menggoda. Ia menenteng nampan berisi secangkir kopi dan beberapa potong biskuit buatan sendiri. Langkahnya terhenti tepat di depan ruang kerja Vincent. Dengan jantung berdebar, ia mengetuk pelan pintu kayu itu. "Pak Vincent, saya bawakan kopi. Biar nggak terlalu capek kerja terus," katanya dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Pintu terbuka. Vincent menoleh, matanya hanya sekilas menyapu tubuh Naura lalu kembali pada layar laptopnya. "Terima kasih, Naura. Taruh saja di meja." Naura menuruti. Ia meletakkan nampan itu dengan hati-hati, lalu berdiri tan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD