Ruangan rawat inap itu terasa tenang. Tirai dibiarkan sedikit terbuka, membiarkan cahaya pagi masuk lembut ke dalam kamar. Zeya bersandar di ranjang, rambutnya diikat seadanya, mata sedikit bengkak karena kelelahan dan haru. Di sebelahnya, dua boks bayi diletakkan berdampingan, masing-masing berisi keajaiban kecil yang membuat d**a mereka bergetar sejak pertama kali menangis. Kenzo duduk di kursi samping ranjang, tangannya tak pernah jauh dari tangan Zeya. Ia masih mengenakan scrub hijau, walau sudah membuka masker dan penutup kepala sejak mereka keluar dari ruang operasi. “Masih nggak percaya mereka udah di sini,” gumam Zeya sambil menatap boks bayi. Kenzo mencium punggung tangannya. “Aku juga.” Tak lama kemudian, seorang suster masuk membawa map catatan. “Selamat pagi, Dokter Kenzo,

