Nina kini sedang di kamar calon anaknya, ditemani beberapa kardus berisi perlengkapan bayi. Bima awalnya sudah melarang istrinya terlalu banyak bergerak, tapi Nina tetap nekat menata baju-baju mungil ke dalam lemari. “Yang ini lucu banget, ya,” gumam Nina sambil melipat baju bayi warna biru muda. Tangannya bergetar sedikit, lalu dia berhenti sejenak, mengelus perutnya yang sudah sangat besar. Tiba-tiba rasa nyeri datang menusuk dari perut bagian bawah. Nina meringis, tangannya refleks mencengkram pinggiran lemari. “Ahh…” desisnya pelan, wajahnya mulai pucat. Bima yang baru saja masuk membawa segelas air mineral langsung panik melihat ekspresi Nina. “Sayang? Ada apa? Perutnya sakit?” Nina mengangguk pelan, menahan rasa sakit yang datang semakin kuat. “Kayak kontraksi, Mas.” Tanpa piki

