Bel rumah berbunyi nyaring, memecah keheningan sore yang palsu di kediaman Bude Laksmi. Di ruang tengah, Bude Laksmi yang sejak tadi mondar-mandir akhirnya duduk di sofa. Televisi menyala, tapi suaranya kecil. Ia menghela napas kesal, lalu melirik jam dinding. “Ck … siapa lagi sih sore-sore begini,” gumamnya. Ia tidak bangkit. Bahkan tidak menoleh ke arah pintu. “Bik,” panggilnya malas. “Kalau tetangga yang datang, bilang saja saya lagi sakit. Nggak bisa ketemu siapa-siapa.” “Baik, Bu,” jawab sang pembantu dari arah dapur. Bibi itu berjalan ke pintu depan. Tangannya meraih gagang, lalu membukanya dengan senyum sopan yang refleks terpasang di wajahnya. “Oh … Mas Bram,” ucapnya ramah. Namun senyum itu langsung meredup. Di balik Bram, berdiri dua pria berseragam—postur tegap, wajah se

