Bab 171. Pagi Yang Manis

2327 Words

Pagi di Parangtritis datang perlahan, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu tidur orang-orang yang masih memeluk hangatnya malam. Cahaya matahari menyusup dari sela tirai tipis vila privat, memantul lembut di lantai kayu dan menyentuh ujung bantal seperti tangan halus yang membangunkan pelan-pelan. Alea terbangun lebih dulu. Matanya berkedip beberapa kali, menyesuaikan diri dengan terang yang baru lahir. Di sampingnya, Bram masih terlelap—napasnya teratur, wajahnya tenang, satu lengannya masih melingkar di pinggang Alea seolah memastikan ia tidak pergi ke mana-mana. Alea menatap suaminya lama, lama sekali, sampai ia merasa sesuatu di dadanya mengembang dan menghangat. Ia tersenyum kecil. Tidak banyak perempuan yang bangun di pagi hari dengan perasaan seperti ini—perasaan pulang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD