Suster Ike kembali ke ruang VIP dengan langkah pelan namun sigap. Di tangannya ada kursi roda yang sudah disterilkan, sementara di lengan satunya tergantung baju APD berwarna hijau muda lengkap dengan penutup kepala dan masker medis. “Bu Alea, kita siap ke NICU ya,” ucapnya lembut. Alea menoleh. Detik itu juga jantungnya berdegup lebih cepat. Ada rasa gugup, rindu, takut, dan harap yang terjalin erat jadi satu. Tangannya reflek mencengkeram selimut. “Iya, Sus,” jawabnya pelan tapi tegas. Suster Ike mendekat, lalu dengan sangat hati-hati membantu Alea duduk. Tubuh Alea menegang sejenak saat punggungnya bergerak. Nyeri dari memar di punggung dan sisa benturan di kepalanya membuat napasnya tertahan. “Pelan-pelan ya, Bu. Kalau sakit bilang,” kata Ike. Alea mengangguk. Ia menahan meringis

