Bab 118. Kata-kata Rian

2502 Words

Hari beringsut pelan menuju sore. Cahaya matahari yang sejak siang menyilaukan kini berubah temaram, menyelinap masuk melalui celah jendela rumah sakit, membias lembut di lantai koridor. Udara terasa lebih tenang, seolah dunia ikut menarik napas setelah rentetan peristiwa yang nyaris merenggut banyak nyawa. Alea sedikit lebih lega. Dadanya yang sejak pagi seperti diikat simpul kini terasa longgar, meski belum sepenuhnya tenang. Ia sudah melihat Alan. Putranya hidup. Putranya membuka mata, menggenggam jarinya. Kenyataan itu menambal sebagian besar luka yang selama ini menganga, meski sisanya masih perih, masih berdarah. Namun pertemuan singkat dan panas dengan Rere meninggalkan bekas lain—bekas yang tidak bisa dihapus hanya dengan air mata atau pelukan. Alea tahu, badai belum sepenuhnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD