Bab 119. Tidak Bisa Membawa Alan ke Yogyakarta

2439 Words

Keesokan harinya, rumah sakit kembali diselimuti ritme yang sama—derap langkah perawat, bunyi troli obat yang bergeser pelan, dan dengung mesin pendingin yang tak pernah benar-benar berhenti. Namun di balik rutinitas itu, ada benang-benang konflik yang terus ditarik, mengencang tanpa suara. Di lantai lain, Bude Laksmi duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor. Tangannya memegang ponsel dengan erat, kuku jarinya menekan-nekan casing plastiknya tanpa sadar. Sejak beberapa hari terakhir, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ada satu pertanyaan yang terus mengusik: siapa sebenarnya mantan suami Alea? Ia sudah menelepon beberapa sanak saudara di Yogyakarta. Satu per satu, jawaban yang ia terima seragam—menggeleng, tidak tahu, tidak kenal. Tidak ada yang pernah melihat atau mendengar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD