Ruang rawat VIP itu dipenuhi suara lirih aktivitas—gesekan koper kecil, bunyi lipatan kain, dan sesekali deru pendingin ruangan yang monoton. Bu Shinta berdiri di sisi ranjang, tangannya cekatan melipat pakaian Alea satu per satu. Gerakannya rapi, seperti sedang mengatur ulang hidup anaknya yang porak-poranda. Di sampingnya, Ida membantu memasukkan baju-baju bayi Alan ke dalam tas khusus bayi—baju mungil, selimut tipis, botol ASI, semuanya tertata dengan hati-hati, seolah sedikit kesalahan bisa melukai bayi itu lagi. Alea memperhatikan mereka sambil duduk setengah bersandar. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan masalah yang belum sepenuhnya reda. Setiap kali tangannya menyentuh rambut Alan yang terlelap di boks kecil, dadanya menghangat—dan di saat yang sama, perih. Putranya ada

