Bab 148. Gelisah

2267 Words

Jam dua siang tepat ketika mobil Bram memasuki halaman mansion. Matahari Jakarta menyengat, membuat halaman luas itu tampak silau. Bram turun dari mobil dengan langkah mantap. Wajahnya tetap datar, rapi—seperti biasa—namun ada sesuatu yang berbeda pada sorot matanya. Ada tujuan yang jelas. Ada rindu yang tidak ia sembunyikan. “Assalamualaikum, Pak,” sapa Bik Tini yang sudah menunggu. “Waalaikumsalam,” jawab Bram singkat. Rian turun menyusul, menarik koper kecil. Bram langsung menyerahkannya pada Bik Tini tanpa banyak bicara. “Alea di mana?” tanya Bram, nada suaranya datar tapi jelas terburu. Bik Tini tersenyum. “Kayaknya di kamar anak, Pak. Sejak selesai makan siang langsung nemenin Alan.” Bram mengangguk kecil. “Rian,” katanya sambil menoleh sebentar, “kamu istirahat dulu. Nanti

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD