Pagi di mansion Bram terasa sunyi dengan cara yang aneh. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang menggantung—seperti rumah besar itu sedang menahan napas. Alea melangkah pelan di lorong lantai dua. Di tangannya, sebuah nampan berisi semangkuk bubur ayam hangat, segelas teh manis, dan obat-obatan yang sudah ia siapkan rapi sejak tadi. Langkahnya hati-hati, bukan karena lantai licin, melainkan karena ia tahu—di balik pintu kamar tamu itu, ada seseorang yang sedang runtuh. Ia mengetuk pelan. “Bu,” panggilnya lembut. “Aku bawakan bubur ayam. Ibu sarapan dulu ya.” Pintu terbuka. Bu Shinta terlihat terbaring di ranjang besar, tubuhnya tampak semakin kecil di antara seprai putih. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Rambutnya yang biasanya rapi kini tergerai tanpa tenaga. Matanya ter

