Bab 169. Malam Pengantin Baru

1804 Words

Malam turun perlahan di Parangtritis. Langit berubah menjadi biru tua yang lembut, sementara suara ombak terdengar lebih jelas—ritmis, menenangkan, seperti doa yang dibacakan alam untuk siapa pun yang mau mendengarkan. Bram menggenggam tangan Alea saat mereka melangkah menuju vila mereka. Baby Alan berada dalam gendongannya, matanya setengah terpejam tapi masih cukup sadar untuk mengoceh kecil setiap kali angin malam menyentuh pipinya. “Mas, kita nggak ikut makan malam sama Mama dan yang lain, nggak apa-apa?” tanya Alea pelan, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Bram tersenyum, senyum yang belakangan sering muncul—tenang, hangat, dan penuh rasa syukur. “Sekali ini aja. Aku pengin malam ini hanya buat kita bertiga.” Alea menoleh. Ada sesuatu di tatapan Bram yang membuat dadanya m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD