Malam turun perlahan di kota itu, menyelimuti hotel dengan cahaya lampu-lampu kuning yang temaram. Dari balik jendela kamar hotel, gemerlap jalan raya terlihat seperti aliran cahaya yang tak pernah tidur—berbeda dengan hati orang-orang di dalamnya yang kelelahan oleh peristiwa demi peristiwa. Kamar Bram Bram akhirnya memilih menginap di hotel yang sama, namun sengaja meminta kamar di lantai berbeda. Ia tahu, jarak itu perlu—bukan karena ia ingin menjauh, tapi karena ia sedang belajar menahan diri. Menahan ego. Menahan keinginan. Di kamar itu, Mama Linda duduk di sofa kecil dekat jendela. Rambutnya yang rapi kini sedikit berantakan, matanya sembap. Bram berdiri di depannya, masih mengenakan kemeja sederhana, kruk bersandar di sisi meja. “Nak,” suara Mama Linda terdengar lirih namun penu

