Bab 173. Hari Terakhir Liburan

2437 Words

Siang di Parangtritis berjalan santai, seolah matahari pun tahu sedang berada di tempat orang-orang belajar bernapas lebih pelan. Angin laut tidak terlalu kencang, cukup untuk menggerakkan dedaunan dan tirai-tirai vila yang terbuka. Suara ombak datang dan pergi, tidak pernah benar-benar hilang, seperti latar musik yang setia. Di vila privat, Alea duduk di teras sambil menatap laut. Alan tertidur di stroller kecil di sampingnya, topi tipis menutupi sebagian wajah mungilnya. Bram berdiri bersandar di pagar kayu, satu tangannya memegang ponsel—bukan untuk bekerja, hanya mengecek jam. “Mas,” panggil Alea pelan. Bram menoleh. “Hm?” “Kalau nanti pulang ke Jakarta … Mas masih mau bangun pagi kayak gini nggak?” tanya Alea, nadanya ringan, tapi matanya penuh harap. Bram tersenyum kecil. Ia mem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD