Sekitar jam empat pagi, Ayuna mengerang lirih, langsung sadar jika kini dia berada dalam dekapan sang suami. Harusnya Ayuna bahagia, karena bangun dalam dekapan pria tercinta, namun tidak untuk kali ini. Ada sesuatu yang masih belum selesai di antara mereka. Dan Ayuna merasa semakin lelah hatinya. Kini rasa-rasanya dia memang sudah terbebani dengan pikiran buruk, dia tidak bisa lagi mengatakan dirinya baik-baik saja dan tidak memiliki beban apa pun. Rasa sakit yang dia rasakan tidak akan menemui obatnya jika suaminya masih yakin dengan diagnosa Dokter Utari. Dan kini diagnosa Dokter Utari yang awalnya salah mungkin akan menjadi valid karena Ayuna memang benar-benar mulai tertekan dengan keadaannya. “Sayang … Sudah bangun?” Elan langsung mengecup keningnya sambil mengusap kepala

