Bibir pria itu menyungging senyum sarkas saat melihat pantulan dirinya di cermin. Sarkasme untuk dirinya sendiri yang akhirnya bisa mencapai tujuannya setelah beberapa waktu ini berkutat dengan sesuatu yang menjungkir balikkan hidupnya. Elan akhirnya berhasil merasakan ketenangan itu, dengan hati yang sepenuhnya lega saat akhirnya dia telah berdamai dengan luka dari pengkhianatan sang istri dan telah memahami sepenuhnya apa yang terjadi pada hatinya. Kini, Elan paham sepenuhnya tentang sebuah rasa yang dulu sangat jauh untuk bisa menjangkau hatinya. Rasa kasih dan cinta untuk seorang wanita yang belum pernah Elan rasakan seumur hidupnya. Kini, dia bukan lagi sekedar tidak mau melepaskan Ayuna, namun dia membutuhkan wanita itu dalam hidupnya karena … Ah, Elan masih merasa tabu unt

