Pria tua itu terlihat kembali menitikkan air mata sambil mengusap lembut layar ponselnya. Layar ponsel itu tengah menampilkan sebuah artikel tentang berita yang menghangatkan hatinya sejak beberapa bulan lalu. “Hidup yang bahagia, ya, Nak … Papa akan selalu mendoakan Ayuna … hanya itu yang bisa Papa lakukan sekarang. Memohon ampun pada Tuhan dan memohon kebahagiaan Ayuna, karena Papa tidak berani meminta lebih.” Air mata Dewangga jatuh begitu saja saat kembali bermonolog seolah dia tengah berbicara dengan sang putri. Dia kembali membaca berita itu untuk kesekian kalinya, mungkin sudah ratusan kali Dewangga membaca artikel itu sejak pertama kali diterbitkan, dan setiap membacanya -meski sudah ratusan kali- hatinya tetap dipenuhi rasa bahagia yang membuncah di dadaa, karena artikel i

