Ternyata tidak semudah itu mendapatkan jadwal untuk bertemu dokter spesialis di Singapura. Disti sempat berharap prosesnya akan lebih cepat, mengingat reputasi rumah sakit di sana yang dikenal efisien dan sistematis. Namun realitanya, daftar tunggunya cukup panjang. Rasa cemas dan harap - harap cemas kembali menyelimuti pikirannya saat menerima kabar bahwa ia baru mendapat antrean untuk konsultasi sebulan lagi. “Lumayan, masih bisa kita atur waktunya,” kata Dharren berusaha menenangkan, saat mereka membahas jadwal dokter di meja makan malam itu. Disti mengangguk pelan. Ia mencoba tersenyum, meskipun batinnya belum benar - benar tenang. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, mereka akhirnya sepakat untuk memanfaatkan waktu menunggu dengan pulang ke Bandung. Sudah cukup lama mereka tidak b

