Malam di Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Angin yang membawa aroma tanah basah menembus celah jendela, menggoda siapa pun untuk segera membungkus diri di balik selimut tebal. Di salah satu kamar rumah keluarga itu, Disti sudah terlelap lebih dulu. Wajahnya terlihat tenang di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Musim penghujan memang membuat orang cepat mengantuk, dan udara sejuk malam itu membawa ketenangan tersendiri, setidaknya bagi Disti. Namun tidak bagi Dharren. Perlahan, pria itu bangkit dari tempat tidur. Gerakannya pelan agar tidak membangunkan istrinya. Ia meraih sweaternya yang tergantung di kursi, mengenakannya sekilas, lalu melangkah keluar dari kamar. Langkahnya menuju kamar orang tuanya di ujung lorong dekat ruang keluarga. Ia tahu Papa dan Mamanya belum tidur.

