Hari H pun tiba. Sejak membuka mata pagi itu, jantung Disti berdegup lebih kencang dari biasanya. Udara terasa berbeda, bahkan suara burung yang biasanya menenangkan kini justru membuatnya gelisah. Hari ini adalah hari yang sudah ditunggu - tunggu sekaligus ditakutinya. Hari penentuan. Sebenarnya ia bisa saja mencoba tes kehamilan lebih cepat dengan tespek di rumah. Namun, setiap kali membayangkan dua garis itu tidak muncul, hatinya seperti diremas. Lebih baik menunggu hasil dokter, pikirnya. Setidaknya di sana ada kepastian, ada penjelasan, bukan sekadar garis samar yang membuatnya bingung. Hari ini dokter Fajar praktek siang, jadi ia dan Dharren memang tidak berangkat bersamaan. Dharren sudah berangkat lebih dulu untuk praktik pagi. Sementara Disti akan menyusul dengan diantar sopir.

