Pagi harinya, Justin bangun lebih dulu. Pria itu tidak langsung beranjak dari kasur, melainkan menatap lekat wajah Zena yang posisinya menghadap dirinya. Semalam tidur wanita itu tidaklah nyenyak. Beberapa kali Zena terbangun karena mimpi buruk atas perlakuan Geraldy. Dan sekitar jam lima, barulah wanita itu benar-benar beristirahat. Tangan Justin terulur, mengusap lembut pipi Zena. Justin taka da niat untuk membangunkan, tetapi jari telunjuknya memang sangat ingin menyentuh pipi Zena. Entah kenapa, rasa sayang Justin kepada Zena semakin meningkat. Hatinya turut merasakan tak terima dengan apa yang sudah terjadi dengan wanitanya kemarin. “Sekali lagi maafin saya, Zen. Maaf karna saya telat kemarin. Tapi kamu tenang aja, semuanya akan saya urus dan selesaikan. Kamu aman sama saya,” ujar J

