Zena masuk ke dalam mobil, lalu pergi meninggalkan kafe. Selama diperjalanan Zena diam, napasnya masih turun naik. Wajar, emosi masih menguasai dirinya saat ini. Apalagi saat wajah tanpa bersalah Revinka melintas. Sungguh, wanita itu sama sekali tidak merasa bersalah. Bukannya merasa bersalah, dia justru meminta Zena untuk menjauhi Geraldy. Zena berdecih, tanpa perlu dikasih tahu dia juga sudah mengambil langkah itu. Walaupun hatinya sakit dan sesak, Zena sama sekali tak mengeluarkan air mata. Dia berusaha menahan kuat-kuat. Karena kalau dituruti, sudah pasti sejak keluar kafe dia menangis. Zena jadi teringat perkataan Justin. Kalau air matanya terlalu berharga untuk menangisi manusia b******k seperti Geraldy. Selai itu Zena juga ada pemotretan, dia tidak mau matanya sembab kembali. Kare

